BIOGRAFI PENULIS
Moh. Ghufron Cholid, lahir di Bangkalan 07 Januari 1986 M dari pasangan KH.
Cholid Mawardi dan Nyai. Hj. Munawwarah. Penulis mulai menekuni dunia tulis
menulis semenjak tahun 2004 M. karya-karyanya berupa cerpen, puisi dan renungan
pernah dipublikasikan diberbagai Majalah di almamaternya seperti Majalah Qalam,
Majalah QA, dan Majajalah KUNTUM Jogjakarta serta Radar Madura (Jawa Pos Group)
dan terkumpul dalam antologi puisi, Selembar Pengakuan (2007), Biarkan Waktu
Mengalir Seperti Air (2007) dan Antologi Puisi Mengasah Alief yang ditulisnya
bersama sepuluh penyair Al-Amien seangkatannya yang tergabung dalam Sanggar
Matahari Pamungkas. Karya Puisinya juga bisa dilihat dan dinikmati di
www.warungsastra.kemudian.com. Selain itu penulis juga bergabung di rubric
puitika.net. sebagai anggota.
INDONESIA
aku
k
e
h
i
l
a
n
g
a
n
jejakmu
Taman Terkoyak, 2008 M
BBM NAIK
bbm naik
rumah mimpi rakyat ambruk
semua saling tubruk
semua saling tusuk
Taman Terkoyak, 2008 M
PERANG BELUM SELESAI
; Almarhumah Laylaturrahmah
Perang belum selesai
Kenapa kau pilih ilalang
Bukankah kita pejuang
Walau tak dikenang
Taman Terkoyak, 2007 M
YANG KU MAU HANYA SATU
setelah kumengabu
jangan jadikan indonesia debu
Taman Terkoyak, 2008 M
MENGENANG SAMPIT
mengenang sampitmu yang amis
angin selalu datang berbagi tangis
aku mengemis
biar kau tak amis
taman Terkoyak, 2008 M
AKU GEMETAR
aku gemetar
lantaran takut nusantara berpencar
mencari sinar
sepanjang tanah bergelar
Taman Terkoyak, 2008 M
KETIKA RERANTING SEJARAH PATAH
reranting sejarah patah
daun-daun gelisah
tanah hilang teduh
laut hilang ombak
angin hilang desir
semua tersingkir
hingga terusir
Taman Terkoyak, 2008 M
SETELAH JAWA-MADURA SATU NAFAS
gedung-gedung menggussur gubuk-gubuk
semua sibuk semua mabuk
madura hilang bentuk
Taman Terkoyak, 2008 M
NASIB SAUDARIKU DI MASA DEPAN
Saudariku
Lihatlah dari jendela
Betapa buas dunia memburumu
Kalau sampai tertangkap
Dunia `kan mencetakmu
menjadi merk-merk minuman
iklan-iklan dan Koran-koran
pasar, kantor dan hotel
selalu bercerita tentangmu
layer kaca pun makin pandai buatmu terkenal
namun hanya sebentar
bila purnama di wajahmu redup
daun usiamu menguning
kau `kan mengasing
dunia pun `kan membuang
pintu-pintu yang kau singgahi dulu
tak lagi ramah menyambut hadirmu
hanya pintu taubatmu
masih setia menunggu
Taman Terkoyak, 2008 M
PEREMPUAN MALAM
Begitu siang berbaju petang
Parfummu memanggil kumbang-kumbang
Lantas
Kamar demi kamar kau cumbu
Rumah demi rumah kau rayu
Hotel demi hotel kau madu
Lalu
Kau sibuk mengejar mimpi
Hingga lupa wangi melati
Kemudian
Jiwamu melayang
Hingga lupa pulang
Yang tersisa hanya sesal membayang
Taman Terkoyak, 2008 M
DARAH YANG KAU TUMPAHKAN
darah yang kau tumpahkan
sepanjang taman perjuangan
tinggal kenangan
lantaran sudah digadaikan
iblis-iblis kelaparan
Taman Terkoyak, 2008 M
DEMI UANG
demi uang
semua lupa pulang
demi uang
semua tinggal tulang
Taman Terkoyak, 2008 M
ATAS NAMA IBLIS
atas nama iblis
tanah-tanah agamis harus amis
Taman Terkoyak, 2008 M
PANGGUNG POLITIK
ajang beradu taktik
tak berkutik sampai titik
Taman Terkoyak, 2008 M
SEBELUM PILGUB
Semua mencari nama
Mencari suara
Pada tiap rumah suci
Pada tiap baris doa
Pada tiap kota dan desa
ada yang bermodal cahaya
ada yang berobral kata
ada yang menabur harta
kau pilih yang mana?
Kamar Sunyi, 2008 M
SEBATAS MIMPI
ketikan merdeka sebatas mimpi
kau dan aku adalah rajawali
dalam sangkar besi
tak bisa memberi arti
Taman Terkoyak, 2008 M
KEMBALI NISAN
dunia dalam genggaman tanganmu
tak lagi menyuguhkan kemegahan
saat wajahmu kembali nisan
Taman Terkoyak, 2008 M
MALAM 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL
Malam ini semua rata
Tak ada lembah tak ada bukit
Semua bebas semua lepas
Malam ini semua merdeka
Merdeka berkata merdeka bersuara
Merdeka memajukan Indonesia
Taman Merdeka, 2008 M
ANTARA MAWAR DAN CELURIT
Antara maar dan celurit
Madura bangkit
Mengibarkan merah putih di atas bukit
Taman Merdeka, 2008 M
PEMUDA, SAJAK INI UNTUKMU
Selepas kutulis sajak untukmu
Lantas kumengabu
Kau harus maju
Kibarkan merah putihmu
Kalahkan mesiu kalahkan peluru
Jangan berhenti jangan berlari
Indonesia masih butuh suaramu
Taman Merdeka, 2008 M
KITA TELAH MERDEKA
Presiden memimpinlah
Guru mengajarlah
Mahasiswa berorasilah
Murid belajarlah
Penyair bersyairlah
Kita telah merdeka
Taman Merdeka, 2008 M
SURAT RAHASIA
adikku sayang
tuhan-tuhan baru lahir di kota-kota
mungkin esok atau lusa
mereka lahir di desa-desa
namun tenang
allahku
allahmu
takkan pernah tersingkir
Taman Merdeka, 2008 M
SAJAK UNTUK R.A KARTINI
meski kau telah terbaring
mata air juangmu tak pernah kering
tiap hari lahirmu
selalu tegak karti-kartini baru
melanjutkan mimpimu
Taman Merdeka, 2008 M
PEREMPUAN
Kaulah cermin
Berkaca seluruh jaman
Dari rahimmu lahir anugrah kehidupan
Dari katamu tercipta doa dan kutukan
Taman Merdeka, 2008 M
MALAM PENGANTIN
Malam ini kau dan aku
Hilang batas rahasia
Kita semakin mesra
Melukis surga
Sepanjang gerak dan kata
Perlahan
Bahasa tubuhmu penuh metafora
Buat aku semakin tergoda
Taman Merdeka, 2008 M
CINTA SETELAH PERKAWINAN
sayang
bungamu yang perawan
biar kupetik di taman pelaminan
agar singgasana kemegahan iman
memperindah cinta keberkahan
sayang
bukannya aku tak tergoda
bukan pula aku tak suka
pada bungamu yang perawan
melainkan sayangku pada kebenaran
akan janji tuhan yang menuntun
sayang
bukankah bungamu yang perawan
adalah puisi kelahiran cahaya titipan
selalu dibacakan kekasih pilihan
di ranjang pelaminan
Taman Merdeka, 2008 M
AKU MENGIRI
; Alm. KH. Bakri Munawir
Aku mengiri
Sebab dalam keranda
Kau masih ikhlas menjadi tanda
Taman Keridloan, 2002 M
SEKITAR PEMAKAMAN
; Almarhumah Nyai. Hj. Muhabbah
Sekitar pemakamanmu
Beburung bertahlilan
Rerumputan membaca yasin
Menggambarkan keteduhan
Dirimu di taman keridloan
Taman Keridloan, 2007 M
BERCERMIN PADA NISANMU
;Alm. KH. Moh. Tidjani Jauhari
bercermin pada nisanmu
aku semakin mengerti
jalan kembali
Taman Keridloan, 2007 M
MESKI HANYA MELATI
;Alm. KH. Rusydi Abbas
Meski hanya melati
Yang kau weselkan
Cukup buatku paham
Hidup hanya persinggahan
Taman Merdeka, 2008 M
AKHIR SEBUAH DOA
a
mmm
iiiiiiiiiiii
eeeeeeee
nnnnnnnnnn
aaaaaaaaaa
mmmmm
iiiiiiii
eee
n
Blega, 2002 M
BIOGRAFI PENULIS
Badrut Tamam Bin Rusdi lahir di Bangkalan 5 september 1986 M. dunia
kepenulisannya dimulai ketika ia masuk Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) tahun 2004.
Prestasi: juara pertama lomba perkemahan tingkat penegak (LPPT I) sekaligus
juara favorit bersama teman-temannya yang tergabung dalam Saka Bakti Husada
(SBH) tahun 2004, dilantik menjadi pramuka garuda cabang Sumenep oleh kwartir
cabang Sumenep tahun 2005, juara I dalam Cipta Karya Puisi Doa Untuk Indonesia
PCNU sumenep tahun 2006. karyanya pernah dipublikasikan di majalah KUNTUM
jogjakarta 2006, Qowiyul Amien (QA) 2005, Radar Madura (Jawa Pos Group), dan
puisinya terkumpul dalam antologi puisi Mengasah Alief bersama sepuluh penyair
terkenal Al-Amien seangkatannya.
GURU
Kala malam bertandang
Gelappun datang
Sunyi dan senyap jadi satu
Dibidik bulan terang
Tetaplah engkau guruku
Dari pagi hingga petang
Ladang baru ditanam
Bijipun letup timbul perlahan
Maka tetaplah engkau guruku
Dari pagi hingga petang
Melihatmu tanpa sadar
Kurasakan rasa yang semakin menggelegar
Merambati rumputan hati
Yang lama belum mekar
Guru, tetaplah engkau guruku
Dari pagi hingga petang
Izinkan Kubiarkan hati mengakuimu
Sebagai guru
Karna jasamu tak dapat kutiru.
14-4-1429 H.
MALAM DAN SETERUSNYA
Malam ini kusebut engkau begitu menawan
Dari ujung langit hingga telapak bumi
Senyummu begitu perawan
Terbias pada tepi kerinduanku yang kusebut malam
Masihkah pelangi berwarna-warni
Ketika kubandingkan warna kesungguhanmu malam ini
Sesaat memang tak
Tapi tak terasa lagu lesungmu yang pualam
Mengernyitkan dahiku
Yang tak sengaja kubilang itu ya.
Selamat
Kurindu engkau hari ini
Dan seterusnya
Kuharap begitu
14-4-1429 H.
DENGAN APA…?
Dengan apa harus aku menyebutmu
Bintang atau bulan
Pada pekat senja warnamu yang sayu
Mengalir makna
Sebab bila dengan bintang
Kilaumu tak dapat kubayangkan
Sebab bila dengan bulan
Tanyaku tak butuh jawaban
Karena engkau adalah keduanya
Bulan dan bintang
Pada pagi yang menggigil
Dan senja yang mungil
Sinarmu datang sebagai penghangat jiwa
14-4-1429 H.
ANDANTE MAESTOSO
Mata hati kita saling berteguran
Ketika pandangan membelaimu begitu sopan
Tanpa kata yang pas
Tak bisa mengutarakan
Lantas luas bumiku dengan tinggi langitmu yang ungu
Menyatu dalam kata yang tak pernah dapat kita terjemahkan
Perlahan tanyaku terjawab juga
Mengapa rumputan dilangit selalu menunjuk langit
Sedetik kemudian kuamini pemahamanku
Tentang lagumu yang andante maestoso sempurna
Seumpama mercusuar engkau adalah ketinggiannya
Disana bisa kulihat laut berkejaran membimbing ombak
Bersaksikan langit-langitmu yang tak lagi ungu.
14-4-1429 H.
KUSEBUT INI PAGI
Kusebut pagi pada buah pertapaanku
Meski redup tak apalah
Masih banyak merkuri yang bisa kukekalkan
Bersama warnaku malam ini
Pada carik layang
Layar harus tetap berkembang
Kalau kau bertanya mengapa bumiku selalu pagi
Maka simaklah kicau pada sekenario puisiku
Yang disana ada kamu.
15-4-1429 H.
BANGKU BELAJAR
Memungut rasa dibangku belajar ini
Bagai mengikat purnama dilangit biru
Secarik kertas yang pasrah ibu kasih padaku
Terserah mau diapakan lagumu itu
Sebuah pena kegelisahan yang kuncup
Siap menulis ruang pada kotamu yang gugup
Ibuku ini ada-ada saja
Harus dengan apa kurangkum dunia
Sedang lamunanku belum juga reda
Satu dua tiga kucoba memutar balik Tanya
Ini apa?
15-4-1429 H.
OASE CINTA IBU I
Teruntuk seorang Ibu
Kata-kata laksana oase keabadian
Tak kunjung kering mengairi ladang-ladang
Tak habis dilancip senja
Tak pudar didebur ombak
Ibu begitu teduh kasihmu
Jelma embun ditekuk segara
Betapa kilau cintamu
Memutikkan rasa dalam memandang dunia
OASE CINTA IBU II
Ibu, sebait puisi yang kau tunjuk dengan jemari
Dengan bahasa melati
Menjelma purnama dilentik kenganga
Meluluhkan keterpikatanku pada singgasana
OASE CINTA IBU III
Ibu, Izinkan aku menjelma ilalang
Karena engkau adalah langit berjuta warna
Yang dengan itu aku bisa tiap waktu memandang
Dan aku tak akan pernah puas menunjuk langit dengan dahanku
Yang rindang
OASE CINTA IBU IV
Ibu adalah lautan tempatku minum
Menikmati air lautan susu
Tempatku mengasah alif
Dan
Tempatku memandang
Pada hamparan kasih sayang
OASE CINTA IBU V
Ibu…
Kalau matahari tak lagi terik
Belaianmu terus saja energik
Mendekapku dalam damai tiap detik
Ibu, andai bulan bisa aku rangkul
Dan bumi bisa aku pikul
Hanya padamu kabar ini hinggap pertama kali
Karena engkaulah madu termanisku
OASE CINTA IBU VI
Ibu, meski waktu mulai meranum dikaki langit
Dan senja mulai menyurut
Hanya ditelapak kakimu kutemukan dunia kanak-kanakku
Ranum kekal tetap abadi
Ibu, maafkan anakmu
Aku terlalu miskin akan kata-kata
Tuk sekedar ucapkan
"aku sayang padamu"
Al-Iftikhor II, 10 shafar 1429 H.
BOCAH KECIL PENUNGGU SORGA
Dari Koran hari ini kabar seorang bocah berselimut pelangi benar adanya
Barisan kata bercerita bagaimana ia sering bermain dengan warna dunia
Kerumunan kuman beserta antek-anteknya yang sedang berpesta kerap
Mengundangnya, meski aroma yang kerap dibenci tapi teteplah ia akrab
Bocah itu mendekap baunya sendiri
Mencoba meraba dunia
Kadang menukik dan menurun
Adakah ayat kasih dunia telah ia belai
Sedang malam dengan gelapnya kerap menyelimuti mimpinya
Wahai bocah kecil
Tunggulah sorga dihalte kehidupan ini
Karena ia akan datang dan menjemputmu
Sesaat setelah ini.
Kamis 6 maret 2008 M.
MENGINTIP KEKASIH HATI II
Kasih izinkan aku melayang bersama anganku. Meski tak nyata tak apalah. Aku
sudah cukup senang bisa demikian. Sesekali aku ikut keliling kota suci tempat
orang menghampar rasa. menciumi harum hajar-Mu. Tempat dimana para malaikat
sering mengintip sufi yang khusyu'bermain hati. Aku sebagai mana mereka ingin
sesekali diintip. Agar aku tahu caranya mengintip sorga yang kau janjikan.
Al-Amien. Kamis 6 maret 2008 M.
ALAMAT MAGFIRAH
Tanpa reklame yang jelas jalan itu terus saja menuntun harap
Yang tak jelas sekarang adalah mau kemana kamu sebenarnya
Disini jejak tak dapat terhapus karena waktu yang merekamnya
Dan matahari tak terbit dua kali. Sekali debu yang diterbangkan badai
Jalan ini harus kita cari, kemudian tekadkan tujuan pada almanak harap
Jangan ragu untuk melaju dalam lorong sangkal yang kau dapat dari jejakmu dahulu
Bisikkan pada angin biar sunyi saja yang tahu. Mengalir bagaikan waktu yang
melaju
Bila tekad sudah lekat buat apa pikirkan akibat
Biar waktu yang menjawab dimana ia tertambat
Bila pelangi berwarna warni
Itulah hidup didunia fana ini
Mengalirlah
Maka sampailah, semoga selamat.
Pondok:2:37 PM.
JEJAK DI PADANG TANDUS
Mungkin sayembara ayat cinta ini adalah bilangan pepasir
Dipantai harapan di sebuah pulau yang sering disebut mahabbah
Sedang kita dalam sebuah padang tandus
Sesekali angin akan menerbangkan tubuh
Dalam sisi yang belum pernah kita bayangkan
Sebelum ini terik tapi sesaat kemudian awan
Berkejaran memunguti taubat yang belum kita raih
Dari ranting dzikirmu mengembara sebuah Tanya
Masihkah sayembara ini milik kita? Atau dia yang
Setiap kali terhempas oleh badai ujian lantas menjelma
Mutiara.
Al-amien `hujan'1:33 PM.
BERLABUH SEJENAK
Sejenak kita larut pada tebing-tebing gelisah
Pada laju kereta kita titipkan lafadz tabah
Mencoba menyebut satu yang sunyi pagi ini
Lewat tadarrus cinta pelangi yang tak luntur
berwarna
pada rel-rel munajat yang kita lewati pagi ini,
mulailah jejak yang akan mengantarkan kita pada
gerbong mustajabah satu hati dan satu cinta haqiqi
bacalah satu persatu nikmat magfirah yakinmu lalu
katakan pada dunia bagaimana keagungan harus
ditafsirkan.
Berapa jengkal alif lagi sempurnalah tanyamu terjawab
Maka jangan ragu bahwa kita adalah satu dari beribu
Kafilah, setiap hari kita rakit munajat yang tak luntur
Meski sedetik kemudian tanah tandus, air berarus dan
Pedang menghunus. Hanya satu, keyakinan tak tertara
Dan kita harus berlabuh sejenak dan lebur dalam keyakinan
Bahwa insan ini adalah tanah dan kembalilah ia pada tanah.
Al-Amien Prenduan 12-56'- PM
MENGAPA?
Tertelalu biasa bila aku memandangmu sebagai penyair
Ketika replika Tanya mulai kutabuh
Melalui selayang pandang
Kau mengutip kata
Tapi mengapa belum kudengar pula
Masih sadar ketika daun-daun depan teras ku berguguran
Banyak lamat-lamat coba menafsirnya tapi dengan apa?
Sewaktu kata dalam memakai makna
Tibalah kesadaranku yang semu
Ternyata lagumu terlalu merdu
Entah bagiku…
Kutanya mengapa, tapi rinduku tuk mengetahuimu belum juga keliru
Mengapa bintang kata senang menemuimu?
Mengapa?
15-4-1429 H.
PUISI DIHATIMU
buat: mahar,lintang
Sejalan dengan puisi dihatimu
Hayalku mengembara
Menaiki puncak gungung penasaran
Menuruni tebing-tebing risau
Menukik ketinggian rasa
Menjelajah luas samudera
Menjelma pusara dalam bias cempaka
Melalang nasib yang mengekalkan hasa
Menerobos bintang segara yang bergelantungan di altar langit
Menyusup dari miskinnya hati
Mendobrak alam kejahiliyahan
15-4-1429 H.
KEKASIH
Menyebutmu sebagai kekasih
Itu harapku dari dulu
Hamparan taman harapan menanti
Sahutan melodi padi mulai terpatri
Menyebutmu sebagai kekasih
Itu harapku dari dulu
Sebab malam dengan gelapnya
Dan siang dengan terangnya
sedang menantimu
jadi bintang penghias cakrawala
jadi rembulan yang purnama
Menyebutmu sebagai kekasih
Itu harapku dari dulu
Tanah yang lapang
Langit yang membentang
Sedang menantimu
Jadi tanaman tempat berteduh
Jadi biru tempat mengharu.
15-4-1429 H.
CAHAYA REMBULAN
Kali ini bulan bercahaya serupa malam tanggal lima belas.
Bumiku bermandikan cahaya. Menanggalkan delapan kali purnama. Disini kutermenung
bertatap dengan langit, tersenyum melihatku. Ah, dengan apa gersang bumiku yang
tak bercahaya berani menatap kilaunya cahaya bercahaya. Senyummu tak lagi
terjawab wahai bulan. Cukuplah sampai disitu kau tahu betapa gelap bumi
kesayanganku ini. Jangan terlalu dalam kau menggali nafas kami, semakin dalam
semakin gelap dan hampa.
Bulan malam ini serupa tanggal lima belas
mencoba tanggalkan lamunanku yang tsabit
15-4-1429 H.
LAYAR KITA
Layar rakitmu mulai terjawab
Saat tiupan hawa mempertebal yakinmu
Atas sajak melayu campur rindu
Semakin dini kau tebar pukat
Semakin lahap kantongmu memakan lamunanmu tentang sajak
Tak usah kesah kau olah jadi ragu
Cukup jadikannya debu yang sekali tiup hilang melulu
16 mei 2008 M
ARTI CINTA
Telah banyak cara terungkap
Memaknai kata cinta
Ada yang bilang cinta itu adalah untaian kata
Yang menghembus mesra kedalam jiwa
Malah gugur daunan bilang akulah cinta
Tak dapat disangka
Entah apa kata langit, apa itu cinta?
Entah apa kata bumi, apa itu cinta?
Apakah sendekapku pada langit dan bayanganku pada bumi adalah cinta yang
mengekalkan kata
Sebab setiap kulelah langit yang kubayang
Pada setiap abjad rindu yang belum kubuat
Didada bumi sudah menelma aku yang ilalang
Inikah cinta? Atau kamu tahu jawabnya?
16 mei 2008 M
TERUNTUK SAUDARIKU
Wahai saudariku
Bunga sorgaku
Yang selalu kutunggu
Serampai kembang kamboja
Begitu elok memainkan warna
Hingga kumbang dibikinnya merana
Mengharap dapat sari manisnya
Saudariku yang kurindu
Malam mana yang tak pernah kuharapkan tentangmu
Biar lagu senja yang mengantarku
Kebaringanmu lewat nisan yang terlanjur kekal itu
16 mei 2008 M
SOBAT
Sobat, saat malam petang pun datang
Selaksa cahaya kerap diundang
Sobat, masih disini antara bentang kini dan dahulu
Tak berjarak waktu yang dianggap semu
Sobat, kemari bersamaku duduk kita bersendakap
Merasakan hangat yang belum kita dekap
Sobat, bila saatnya datang adzani aku
Dengan merdu santunmu yang tak keliru
Sudah saatnya aku menunggumu melakukan itu
Tidak seperti dulu
Ketika daku menganggapmu belagu
Sobat, katakan padaku tentang sorga
Sudah lama keningku penuh Lumpur dan dosa
Sobat bangunkan aku bila saatnya tiba
Agar kutahu bagaimana rasanya terjaga
Agar bisa kumemandang matahari dengan sinarnya
Sobat, deras tak jarang serapahku yang kaku
Maafku teruntuk kamu
Sobat, telah seribu kali kutanggalkan yakinku padamu
Tapi sobat ajari aku bertobat
Bukan sesaat tapi setiap saat.
16 mei 2008 M
ANDAI AKU LORA!
Kuharap kenakalanku dulu
Menjadi malaikat penabuh subuh yang utuh
Tak seperti musang beludru yang kutiru
ah, apa boleh dikata manisnya gula
tak semanis alam nyata
sesaat kuterdiam menekuri bayangan
bersamanya ku ditarik perlahan
semakin dalam alam bawah renungan
andai aku lora!
Malam jadi teman baikku
Tuk sekedar bercumbu rayu dengan waktu
Dan akulah sang penjaga subuh yang utuh.
16 mei 2008 M
MERAH PUTIH
Tak usah risau apalagi ragu
Pada yakinmu atas bintang melati yang kau puji
Sebab merah adalah darahmu
Sebab putih adalah tulangmu
Kibarkan setinggi pandangan
Biar sejenak lupakan bayangan
Meski kutahu langit sudah tak setinggi dulu
Tapi masih bisa kita junjung sampai ujung
Tak usah risau apalagi ragu
Buka rongga alam luas buat esok dan lusa
Itu saja.
17-5-2008 M
BERTANYA?
Apa, siapa, mana, kapan, bagaimana dan…mengapa?
Diri ini
Menggelinding bagai masa yang tak pernah surut dilintas benua
Cakrawala kemanusiaan terus berlahiran
Pada tanggal dan bulan dasawarsa
Apa, siapa, mana, kapan, bagaimana dan…mengapa?
Ku ada disini
Rangkum makna yang belum genap merampungkan kata
Pada dini kalimat sendiri
Bentang larik yang makin menarik
Hingar parodi yang makin tak kumengerti
Itulah kenapa kubertanya
Apa, siapa, mana, kapan, bagaimana dan…mengapa?
Diriku ini.
17-5-2008 M
PERJUANGAN
Perjuangan ini teruslah mengalir
Turut memutar arah matahari
Bersinar hingga dini
Sadar kuberada diantara pelangi ini
Penuh warna-warni
Rumit memang membedakan diri
Tapi aku tetaplah aku dini atau esok hari
Sadar kuberada disini disebuah jalan yang kupilih sendiri
Semoga birunya langit tak bosan mencerahkan hati ini
Adzan menjadi pemanggil hati
Takbir nyanyian sanubari
Dan kisahku tak akan sampai disini
17-5-2008 M
SAYEMBARA CINTA I
Denting fajar menggema
Nur-nya mengamini jejak-jejak cinta
Tanpa reliji yang mampu kau rangkum dalam genggam kata
Kalimat cinta telah terbit disalah satu fajar diujung timur sana
Lantas harus dengan apa bukti cintamu harus kau rangkum
Dengan kata
Dengan lima lembar waktu
Atau dengan bahasamu yang tak terjamah oleh embun pada bilangan pepasir dipantai
Kini datanglah bersama suratmu
Karna rimbun pepohon serta bidadari yang terselip dalam warna pelangi siap jadi
pos cintamu
Cinta yang belum pernah kau nyatakan pada rembulan atau pada bebintang segara
Jangan biarkan bayangan merampas jejak-jejak cinta
Maka tanyalah pada fajar atau senja bagaimana cinta harus dibahasakan
dengan tafsir cinta
maka akuilah bilangan ayat cinta
diselip senyumnya
lantas tatap lembaran surat cintamu kemudian
adakah sayembara cinta telah kau dapat?
Al-Amien 23-1-2008 M.
Dosa
Sungguh mudah berbuat dosa
Keheningan diubah nista
Lain halnya berbuat pahala
Karena syetan mana yang terima
Dosa sungguh mudah dikata
Dosa sungguh susah disangka
Dari dini hingga petang tiba
17-5-2008 M
Horai Timings
5 bulan yang lalu